·
الحَثُّ عَلَى التَّعَلُّمِ
–الأول- (Perintah untuk belajar 1)
العَالِمُ كَبِيْرٌ وَاِنْ
كَانَ حَدَثًا
|
وَالجَاهِلُ صَغِيْرٌ وَإِنْ
كَانَ شَيْخًا
|
Seseorang yang berilmu terlihat besar meskipun ia masih muda
|
Dan Seseorang yang bodoh terlihat kecil meskipun ia sudah berumur
|
تَعَلَّمْ فَلَيْسَ
اْلمَرْءُ يُوْلَدُ عَالِمًا
|
وَ لَيْسَ أَخُوْ عِلْمٍ
كَمَنْ هُوَ جَاهِلٌ
|
Belajarlah! Karena seseorang tidak dilahirkan dalam keadaan pintar
|
Dan tidaklah sama orang yang berilmu dengan orang yang bodoh
|
وَاِنَّ كَبِيْرَ
القَوْمِ لَاعِلْمَ عِنْدَهُ
|
صَغِيْرٌ إِذَا
الْتَفَّتْ عَلَيْهِ المحَاَفِلُ
|
Dan apabila seorang pemimpin kaum/kelompok tidak berilmu
|
Maka akan terlihat kecil ketika dalam perkumpulan
|
·
الحَثُّ عَلَى التَّعَلُّمِ
–الثانى- (Perintah
untuk belajar 2)
مَنْ لَمْ يَذُقْ ذُلَّ التَّعَلُّمِ سَاعَةً
|
تَجَرَّعَ ذُلَّ الجَهْلِ طُوْلَ حَيَاتِهِ
|
Siapa yang belum pernah merasakan kesulitan belajar meskipun sebentar
|
Maka ia akan merasakan hinanya kebodohan selama hidupnya
|
وَمَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيْمُ وَقْتَ شَبَابِهِ
|
فَكَبِّرْ عَلَيْهِ أَرْبَعًا لِوَفَاتِهِ
|
Dan siapa yang meninggalkan belajar ketika mudanya/tidak belajar di
waktu kecil
|
Maka ia bagaikan mayat yang disholati dengan 4 takbir
|
حَيَاةُ الفَتَى وَ اللهِ بِالعِلْمِ وَ التُّقَى
|
إِذَا لَمْ يَكُوْنَا لاَ اعْتِبَارَ لِذَاتِهِ
|
Demi Allah, hidup para pemuda dengan 2 hal; ilmu dan ketakwaan
|
Jika belum memiliki keduanya maka tidak akan berk
|
·
أَدَبُ المُجَالَسَةِ (Adab dalam bermu’amalah)
إِنْ أَنْتَ جَالَسْتَ
الرِّجَالَ َّذَوِى النُّهَى
|
فَاجْلِسْ إِلَيْهِمْ
بِالكَمَالِ مُؤَدَّبًا
|
Jika kamu sedang duduk di antara ulama’
|
Maka duduklah dengan adab yang baik dan penuh kesopanan
|
وَاسْمَعْ حَدِيْثَهُمْ
إِذَا هُمْ حَدَّثُوا
|
وَاجْعَلْ حَدِيْثَكَ
إِنْ نَطَقْتَ مُهَذَّبًا
|
Dan dengarkanlah perkataan mereka jika mereka sedang berbicara
|
Dan jika kamu berbicara, maka bicaralah dengan baik dan sopan
|
·
قَال
الإِمَامُ الشَّافِعِى رضي الله عنه(Perkataan Imam Syafi’i)
شَكَوْتُ
إِلَى وَقِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِى
|
فَأَرْشَدَنِى إِلَى تَرْكَ المَعَاصِى
|
Aku mengadu pada Imam Syafi’I tentang kesulitan menghafal
|
Lalu ia memberiku petunjuk untuk meninggalkan ma’siat
|
وَأَخْبَرَنِى بِأَنَّ العِلْمَ نُوْرٌ
|
وَ نُوْرُ اللهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِى
|
Dan ia memberitahuku bahwa sesungguhnya ilmu adalah cahaya
|
Dan cahaya Allah tidak akan turun/memberi petunjuk kepada orang yang
berma’siat
|
·
الشَرَفُ
بِالأَدَبِ(Kemulian dengan Adab yang baik)
لَا تَنْظُرَنَّ لِأَثْوَابٍ عَلَى أَحَدٍ
|
إِنْ رُمْتَ تَعْرِفَهُ
فَانْظُرْ إِلَى الأَدَبِ
|
Janganlah kamu melihat/menilai seseorang dari pakaiann/penampilannya
|
Jika kamu ingin mengetahuinya, maka lihatlah dari adab perilakunya
|
وَمَا الحُسْنُ فِى
وَجْهِ الفَتَى شَرَفًا لَهُ
|
إِنْ لَمْ يَكُنْ فِى
فِعْلِهِ وَ الخَلاَئِقِ
|
Dan tidak ada kebaikan serta kemuliaan di wajah seorang pemuda
|
Jika tidak ada akhlak yang baik di dalam tindakannya/pekerjaannya
|
فَالْيَنْظُرَنَّ إِلَى
مَنْ فَوْقَهُ أَدَبًا
|
وَالْيَنْظُرَنَّ إِلَى
مَنْ دُوْنَهُ مَالًا
|
Maka, lihatlah/tirulah mereka yang di atasmu dalam berakhlak yang baik
|
Dan lihatlah mereka yang ada di bawahmu untuk urusan harta (agar kamu
bersyukur)
|
·
حَقُّ ِالوَالِدَيْنِ (Hak Orangtua)
|
إِنَّ
لِلْوَالِدَيْنِ حَقًّا عَلَيْنَا
|
بَعْدَ حَقِّ اللهِ فِى الاِحْتِرَامِ
|
|
Sesungguhnya terhadap orangtua ada hak yang harus kita lakukan
|
Dan itu terletak setelah hak Allah dalam hal memuliakan/menghormati
|
|
أَوْجَدَانَا وَ رَبَّيَانَا صَغِيْرًا
|
فَاسْتَحَقَّا نِهَايَةَ الاِكْرَامِ
|
|
Karena orangtua, kita ada dan mereka pula yang telah merawat kita dari
kecil
|
(Maka muliakanlah mereka) mereka memiliki kemuliaan hingga akhir
|
·
التَّوَاضُعُ
– الأول- (Rendah hati 1)
|
تَوَاضَعْ
إِذَا مَا نِلْتَ فِى النَّاسِ رِفْعَةً
|
فَإِنَّ رَفِيْعَ القَوْمِ مَنْ يَتَوَاضَعْ
|
|
Merendahlah! jika kaummu mendapatkan kehormatan/kemuliaan
|
Sesungguhnya kemuliaan/besarnya kaum, bagi siapa saja yang merendah
|
|
تَوَاضَعْ إِذَا مَا كَانَ قَدْرُكَ عَالِيًا
|
فَإِنَّ اتِّضَاعَ المَرْءِ مِنْ شِيَمِ العَقْلِ
|
|
Merendahlah! Jika kedudukanmu tinggi
|
Sesungguhnya orang yang merendah adalah sifat orang berakal
|
·
التَّوَاضُعُ
– الثَانى- (Rendah hati 2)
|
تَوَاضَعْ
تَكُنْ كَالنَّجْمِ لَاحَ لِنَاظِرٍ
|
عَلَى صَفَحَاتِ الماَءِ وَ هُوَ رَفِيْعٌ
|
|
Merendahlah! Dan jadilah seperti bintang yang terang/kelip untuk
dilihat
|
Di atas permukaan air, meskipun
pada hakikatnya bintang itu tinggi sekali
|
|
وَ لاَ تَكُنْ كَالدُّخَانِ يَعْلُو بِنَفْسِهِ
|
إِلَى طَبَقَاتِ الجَوِّ وَهُوَ وَضِيْعٌ
|
|
Dan jangan seperti asap, terbang tinggi dengan sendirinya
|
Melewati lapisan-lapisan udara, padahal dia rendah
|
·
الصِّدْقُ (kejujuran)
|
عَلَيْكَ
بِالصِدْقِ فِى كُلِّ الأُمُوْرِ لاَ
|
تَكْذِبْ فَأَقْبَحُ مَا يُزْرِى بِكَ الكَذِبُ
|
|
Berbuatlah jujur di setiap hal dan sepanjang umur, janganlah
|
Kamu berbohong. Sesungguhnya aib terburuk manusia adalah kebohongan
|
|
لاَ يَكْذِبُ المَرْءُ إِلَّا مِنْ مَهَانَتِهِ
|
أَوْ عَادَةِ السُوْءِ أَوْ مِنْ قِلَّةِ الأَدَبِ
|
|
Orang baik tak akan berbohong kecuali (orang yang bohong) dia
rendah/hakir
|
Atau memiliki kebiasaan buruk atau orang yang sangat sedikit adabnya
|
·
النَّصِيْحَةُ (Nasehat)
|
أُسْلُكْ
بُنَيَّ مَنَاهِجَ السَّادَاتِ
|
وَ تَخَلَّقَنَّ بِأَشْرَفِ الْعَادَاتِ
|
|
Berjalanlah anakku! Di jalan yang penuh kemuliaan
|
Dan berakhlaklah dengan penuh kemuliaan
|
|
وَ إِذَا اتَّسَعْتَ بِرِزْقِ رَبِّكَ فَاجْعَلَنْ
|
مِنْهُ الأَجَلَّ لِأَوْجُهِ الصَّدَقَاتِ
|
|
Dan jika
Tuhanmu (Allah) meluaskan rizkinya untukumu, maka jadikanlah
|
Sebagian rizki itu untuk bersedekah
|
Yang lain menyusul :D